Pengetahuan Teknologi Sistem Cerdas
Selasa, 10 Oktober 2017
Pengertian Audit Sistem Informasi
“Audit
sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti – bukti untuk
menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas
data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan
menggunakan sumberdaya secara efisien”. Ron Weber (1999,10) mengemukakan bahwa audit
sistem informasi adalah :” Information systems auditing is the process of
collecting and evaluating evidence to determine whether a computer system
safeguards assets, maintains data integrity, allows organizational goals to be
achieved effectively, and uses resources efficiently”.
Tujuan
Audit Sistem Informasi
Tujuan
Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama dari
ketatakelolaan IT, yaitu :
a. Conformance (Kesesuaian) –
Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh
kesimpulan atas aspek kesesuaian, yaitu :Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (Ketersediaan)
danCompliance (Kepatuhan).
b. Performance (Kinerja) –
Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh
kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu :Effectiveness(Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan).
Tujuan
audit sistem informasi menurut Ron Weber tujuan audit yaitu :
1.
Mengamankan asset
2.
Menjaga integritas data
3.
Menjaga efektivitas sistem
4.
Mencapai efisiensi sumberdaya.
Keempat
tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.Mengamankan
aset, aset (activa) yang berhubungan dengan instalasi sistem informasi
mencakup: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), manusia (people),
file data, dokumentasi sistem, dan peralatan pendukung lainnya.
Sama
halnya dengan aktiva – aktiva yang lain, maka aktiva ini juga perlu dilindungi
dengan memasang pengendalian internal. Perangkat keras dapat rusak karena unsur
kejahatan atau sebab-sebab lain. Perangkat lunak dan isi file data dapat
dicuri. Peralatan pendukung dapat digunakan untuk tujuan yang tidak diotorisasi.
2.Menjaga
integritas data, integritas data merupakan konsep dasar audit sistem informasi.
Integritas data berarti data memiliki atribut: kelengkapan, baik dan dipercaya,
kemurnian, dan ketelitian. Tanpa menjaga integritas data, organisasi tidak
dapat memperlihatkan potret dirinya dengan benar atau kejadian yang ada tidak
terungkap seperti apa adanya. Akibatnya, keputusan maupun langkah-langkah
penting di organisasi salah sasaran karena tidak didukung dengan data yang
benar. Meskipun demikian, perlu juga disadari bahwa menjaga integritas data
tidak terlepas dari pengorbanan biaya. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga
integritas data, dengan konsekuensi akan ada biaya prosedur pengendalian yang
dikeluarkan harus sepadan dengan manfaat yang diharapkan.
3.Menjaga
efektivitas sistem, sistem informasi dikatakan efektif hanya jika sistem
tersebut dapat mencapai tujuannya. Untuk menilai efektivitas sistem, perlu
upaya untuk mengetahui kebutuhan pengguna sistem tersebut (user). Selanjutnya,
untuk menilai apakah sistem menghasilkan laporan atau informasi yang bermanfaat
bagi user (misalnya pengambil keputusan), auditor perlu mengetahui
karakteristik user berikut proses pengambilan keputusannya. Biasanya audit
efektivitas sistem dilakukan setelah suatu sistem berjalan beberapa waktu.
Manajemen dapat meminta auditor untuk melakukan post audit guna menentukan
sejauh mana sistem telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini
akan memberikan masukan bagi pengambil keputusan apakah kinerja sistem layak
dipertahankan; harus ditingkatkan atau perlu dimodifikasi; atau sistem sudah
usang, sehingga harus ditinggalkan dan dicari penggantinya Audit
efektivitas sistem dapat juga dilaksanakan pada tahap perencanaan sistem (system
design). Hal ini dapat terjadi jika desainer sistem mengalami kesulitan untuk
mengetahui kebutuhan user, karena user sulit mengungkapkan atau mendeskripsikan
kebutuhannya. Jika sistem bersifat komplek dan besar biaya penerapannya,
manajemen dapat mengambil sikap agar sistem dievaluasi terlebih dahulu oleh
pihak yang independen untuk mengetahui apakah rancangan sistem sudah sesuai
dengan kebutuhan user. Melihat kondisi seperti ini, auditor perlu
mempertimbangkan untuk melakukan evaluasi sistem dengan berfokus pada kebutuhan
dan kepentingan manajemen.
4. Mencapai
efisiensi sumberdaya, suatu sistem sebagai fasilitas pemrosesan informasi
dikatakan efisien jika ia menggunakan sumberdaya seminimal mungkin untuk
menghasilkan output yang dibutuhkan. Pada kenyataannya, sistem informasi
menggunakan berbagai sumberdaya, seperti mesin, dan segala perlengkapannya,
perangkat lunak, sarana komunikasi dan tenaga kerja yang mengoperasikan sistem
tersebut. Sumberdaya seperti ini biasanya sangat terbatas adanya. Oleh karena
itu, beberapa kandidat sistem (system alternatif) harus berkompetisi untuk
memberdayakan sumberdaya yang ada tersebut.
Adapun
tujuan yang lain adalah :
1.Untuk
memeriksa kecukupan dari pengendalian lingkungan, keamanan fisik, keamanan logikal
serta keamanan operasi sistem informasi yang dirancang untuk melindungi piranti
keras, piranti lunak dan data terhadap akses yang tidak sah, kecelakaan,
perubahan yang tidak dikehendaki.
2.Untuk
memastikan bahwa sistem informasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan
kebutuhan sehingga bisa membantu organisasi untuk mencapai tujuan strategis.
Jumat, 06 Januari 2017
TUGAS SOFTSKILL REVIEW JURNAL
|
CASE-BASED REASONING UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT THT (TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN) |
||||||||||||||
|
A.
|
Sumber
|
|||||||||||||
|
||||||||||||||
|
B.
|
Pendahuluan
|
|||||||||||||
|
Case-Based Reasoning (CBR)
merupakan sistem penalaran komputer yang menggunakan pengetahuan lama untuk
mengatasi masalah baru.CBR memberikan solusi terhadap kasus baru dengan
melihat kasus lama yang paling mendekati kasus baru. Hal ini akan sangat
bermanfaat karena dapat menghilangkan kebutuhan untuk mengekstrak model
seperti yang dibutuhkan oleh sistem berbasis aturan. Penelitian ini mencoba
untuk membangun suatu sistem Penalaran Berbasis Kasus untuk melakukan
diagnosa penyakit THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan).
Proses diagnose dilakukan dengan
cara memasukkan kasus baru (target case) yang berisi gejala-gejala ang akan
didiagnosa ke dalam sistem, kemudian sistem akan melakukan proses indexing
dengan metode backpropagation untuk memperoleh indeks dari kasus baru
tersebut. Setelah memperoleh indeks, sistem selanjutnya melakukan proses
perhitungan nilai similarity antara kasus baru dengan basis kasus yang
memiliki indeks yang sama menggunakan metode cosine coefficient. Kasus yang
diambil adalah kasus dengan nilai similarity paling tinggi. Jika suatu kasus
tidak berhasil didiagnosa, maka akan dilakukan revisi kasus oleh pakar. Kasus
yang berhasil direvisi akan disimpan ke dalam sistem untuk dijadikan
pengetahuan baru bagi sistem. Hasil penelitian menunjukkan sistem penalaran
berbasis kasus untuk mendiagnosa penyakit THT ini membantu paramedis dalam
melakukan diagnosa. Hasil uji coba sistem terhadap 111 data kasus uji,
terdapat 9 kasus yang memiliki nilai similarity di bawah 0.8.
|
||||||||||||||
|
C.
|
Metode Penelitian
|
|||||||||||||
|
Proses pada sistem dimulai dengan
melakukan pembentukan indeks untuk kasus-kasus yang ada, indeks pada kasus
yang ada diperoleh dari pakar. Setelah diperoleh indeks dari setiap kasus
yang ada, maka proses selanjutnya adalah melatih kasus-kasus yang ada dengan
backpropagation, dimana gejala dari kasus menjadi data input dan indeks pada
kasus menjadi target. Hasil dari pelatihan backpropagation berupa nilai bobot
akhir yang nantinya akan digunakan untuk proses indexing pada kasus baru.
Proses selanjutnya yang terjadi
pada sistem adalah menginisialisasi gejala yang dialami oleh pasien yang
dianggap sebagai kasus baru, setelah itu sistem akan melakukan proses
indexing terhadap kasus baru tersebut berdasarkan nilai bobot akhir
backpropagation yang telah dilatih sebelumnya berdasarkan kasus-kasus lama.
Setelah memperoleh indeks dari kasus baru, maka selanjutnya sistem melakukan
perhitungan nilai similarity kasus baru terhadap kasus yang lama yang
memiliki indeks sama. Proses perhitungan similarity mengunakan Cosine
Coefficient. Nilai similarity berkisar antara 0 sampai dengan 1. Apabila
similarity kasus baru dengan salah satu kasus yang ada pada basis kasus
bernilai 1, berarti kasus baru tersebut sama dengan kasus lamayang ada dalam
basis kasus.
Apabila similarity kasus baru
memiliki nilai 0.8, maka kasus baru akan menggunakan solusi yang sama dengan
kasus lama yang ada pada basis kasus. Namun, apabila nilai similarity tidak
mencapai nilai 0.8, maka dianggap kasus baru tersebut tidak memiliki solusi
dan kasus tersebut selanjutnya akan disimpan sebagai kasus baru yang nantinya
akan dievaluasi oleh pakar (revise) dan disimpan kembali ke dalam sistem
sebagai kasus baru dengan solusi yang telah diberikan (retain).
|
||||||||||||||
|
D.
|
Hasil dan Pembahasan
|
|||||||||||||
|
1.
|
Proses pengisian case base
|
|||||||||||||
|
Tahap awal dari penggunaan sistem
proses adalah pengisian case base. Data-data kasus yang akan dimasukkan ke
dalam case base diperoleh dari data rekam medis Poliklinik Telinga Hidung
Tenggorok (THT) RSUD dr. Soedarso, Pontianak. Terdapat 106 gejala THT dan 38
nama penyakit yang dibagi menjadi 3 kelas dan 9 subkelas. Kasus yang
dimasukkan ke dalam case base sebanyak 208 kasus. Setiap gejala penyakit
dibagi menjadi 4 kategori yaitu Tidak, Sedikit, Cukup dan Ya. Nilai untuk
masing-masing kategori adalah 0 untuk Tidak, 0.33 untuk Sedikit, 0.67 untuk
Cukup dan 1 untuk Ya. Pemberian nilai dari masing-masing gejala untuk setiap
kasus dilakukan oleh Pakar.
|
||||||||||||||
|
2.
|
Proses pelatihan basis kasus
|
|||||||||||||
|
Proses pelatihan data kasus dengan
backpropagation dilakukan untuk memperoleh bobot jaringan yang akan digunakan
pada proses indexing kasus baru. Pada proses ini jaringan backpropagation
digunakan untuk melatih semua data yang ada pada basis kasus dengan data
gejala sebagai input pelatihan dan data subkelas sebagai target pelatihan.
Sebelum melakukan pelatihan, admin sebagai user yang memiliki hak akses
proses pelatihan harus mengisi parameter pelatihan terlebih dahulu. Pemilihan
parameter jaringan akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan oleh
jaringan, sehingga harus digunakan parameter yang baik dalam melakukan
pelatihan. Namun, untuk memperoleh parameter pelatihan yang baik maka harus
dilakukan percobaan satu per satu terhadap parameter jaringan. Pada
penelitian ini parameter pelatihan yang digunakan adalah :
§ Laju pembelajaran : 0.3
§ Target error : 0.00001
§ Maksimum epoh : 15000
|
||||||||||||||
|
3.
|
Hasil Pengujian
|
|||||||||||||
|
Pada bagian ini akan dilakukan
pengujian kasus riil terhadap sistem. Kasus yang akan diuji memiliki gejala
sebagai berikut :
§ Demam : Ya
§ Nyeri telinga : Ya
§ Rasa penuh di telinga : Ya
§ Pendengaran berkurang : Cukup
§ Telinga berdengung : Sedikit
§ Cairan telinga bening : Ya
§ ISSN: 1978-1520
§ Laju pembelajaran : 0.3
Terdapat 106 gejala yang ada di
dalam penelitian yang dapat dipilih. Berdasarkan tabel gejala, dapat diketahui
bahwa gejala yang dipilih pada pengujian ini adalah gejala dengan indeks 1,
2, 5, 7, 8 dan 10.
Selanjutnya nilai dari gejala ini
dimasukkan ke dalam sebuah array yang memuat semua gejala. Array penyimpanan
memiliki 106 nilai dimana semua nilai untuk gejala yang tidak dialami akan
diberi nilai 0, dan gejala yang dialami akan diberi nilai sesuai dengan
tingkatan gejala dimana “Sedikit” bernilai 0.33, “Cukup bernilai 0.67 dan
“Ya” bernilai 1.
Setelah diperoleh nilai similarity
kasus uji dengan semua kasus yang memiliki indeks yang sama, maka langkah
selanjutnya adalah mencari nilai similarity terbesar. Berdasarkan nilai
similarity yang diperoleh pada tabel 3, dapat diketahui bahwa nilai
similarity terbesar adalah 1 dan terdapat pada kasus ke-3 dimana pada tabel
kasus dapat diketahui bahwa kasus 3 merupakan kasus yang memiliki id_penyakit
1. Kemudian id_penyakit yang diperoleh digunakan untuk mengambil nama penyakit
pada tabel penyakit sehingga dapat diambil keputusan bahwa kasus uji tersebut
memiliki kemiripan yang paling tinggi tehadap kasus 1 yang memiliki
id_penyakit 1 yang merupakan penyakit Otitis Media Akut.
Proses pengujian tersebut
dilakukan terhadap 111 kasus baru. Kasus baru yang digunakan pada pengujian
merupakan kasus yang pernah terjadi sebelumnya, namun tidak digunakan pada
basis kasus.Tabel 6.3 menunjukkan nilai similarity kasus-kasus yang diuji
terhadap sistem. Hasil uji coba menunjukkan, dari 111 kasus uji, terdapat 9
kasus yang memiliki nilai similarity di bawah 0.8 dan 102 kasus yang memiliki
nilai similarity di atas 0.8. Gambar 11 merupakan grafik hasil pengujian terhadap
111 data kasus uji.
|
||||||||||||||
|
E.
|
Kesimpulan
|
|||||||||||||
|
1.
Penggunaan
metode backpropagation pada proses indexing dapat membantu sistem dalam
melakukan retrieval karena dengan menggunakan backpropagation, pencarian
nilai similarity cukup dilakukan terhadap kasus yang memiliki indeks yang
sama dengan kasus baru. Namun dalam proses pelatihan, backpropagation
memerlukan waktu yang cukup lama karena harus mencoba parameter pelatihan
satu per satu untuk memperoleh jaringan yang terbaik.
2.
Sistem akan
memberikan solusi apabila kasus baru memiliki nilai similarity lebih besar
dari 0.8 terhadap kasus lama.
3.
Hasil uji
coba dari 111 kasus uji, terdapat 9 kasus yang memiliki nilai similarity di
bawah 0.8.
4.
Ada 2 kondisi
revisi kasus: pertama, kasus yang didiagnosa tidak mempunyai kemiripan sama
sekali dengan kasus-kasus yang ada dalam case-base. Kedua, kasus memiliki
kemiripan dengan kasus yang ada dalam case-base tetapi memiliki nilai
similarity dibawah 0.8.
|
||||||||||||||
|
F.
|
Saran
|
|||||||||||||
|
1.
Penggunaan
metode backpropagation pada proses indexing dapat membantu sistem dalam
melakukan retrieval karena dengan menggunakan backpropagation, pencarian
nilai similarity cukup dilakukan terhadap kasus yang memiliki indeks yang
sama dengan kasus baru. Namun dalam proses pelatihan, backpropagation
memerlukan waktu yang cukup lama karena harus mencoba parameter pelatihan
satu per satu untuk memperoleh jaringan yang terbaik.
2.
Sistem akan
memberikan solusi apabila kasus baru memiliki nilai similarity lebih besar
dari 0.8 terhadap kasus lama.
3.
Hasil uji
coba dari 111 kasus uji, terdapat 9 kasus yang memiliki nilai similarity di
bawah 0.8.
4.
Ada 2 kondisi
revisi kasus: pertama, kasus yang didiagnosa tidak mempunyai kemiripan sama
sekali dengan kasus-kasus yang ada dalam case-base. Kedua, kasus memiliki
kemiripan dengan kasus yang ada dalam case-base tetapi memiliki nilai
similarity dibawah 0.8.
|
||||||||||||||
Heading Image source : http://www.onlinehealthissues.com/wp-content/uploads/2016/05/flu.jpg
Sabtu, 12 November 2016
ALGORITMA BUKU ALAMAT
Sebelum membahas sebuah algoritma
buku alamat, bolehlah kita awali dengan pengertian algoritma. Istilah algoritma untuk
beberapa orang mungkin masih agak asing. Namun kalau mendengar
tentang langkah-langkah atau step by step atau juga prosedur,
mungkin lebih familiar didengar oleh telinga masyarakat Indonesia. Memang
benar, algoritma bisa disebut sebagai suatu langkah-langkah logis tertentu
yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Namun bukan sembarang
masalah, masalah yang dimaksud di sini adalah masalah dalam membangun
sebuah sistem ataupun program yang berjalan di dalam sebuah komputer. Lebih
lanjut tentang algoritma, bisa maen ke sini. Karena sudah
tahu tentang pengertian algoritma, mari masuk lebih dalam pembahasan tentang
judul artikel ini.
Diketahui sebuah kasus tentang sebuah buku alamat.
Buku alamat ini dalam kacamata program memiliki 1 kelas dengan nama bukuAlamat,
dengan 5 buah atribut dan 4 buah method yang tergambar dalam class
diagram berikut:
Keterangan atribut dan method tersebut antara lain,
sbb:
Dari keterangan tsb, didapati algoritma terhadap kelas
bukuAlamat sebagai berikut:
Pertama kali, user akan disajikan 5 pilihan menu pada
program, yakni: (1) Input data, (2) Tampilkan data, (3) Update data, (4) Hapus
data, (5) Keluar program.
User memasukkan pilihan menu program.
Jika user memilih menu (1), maka user akan
diminta input data nama, alamat, telp, email. Lalu data entri tersebut
disimpan. Kemudian ditampilkan kembali daftar menu program pada layar (kembali
ke langkah 2).
Jika user memilih menu (2), maka pada layar akan
ditampilkan seluruh data yang tersimpan. Kemudian ditampilkan kembali daftar
menu program pada layar (kembali ke langkah 2).
Jika user memilih menu(3), maka user akan diminta
input id data yang akan dilakukan update atau perubahan. Lalu layar akan
menampilkan summary data dengan id yang diinputkan user. User akan ditanya, “Apakah
Anda yakin ingin melakukan update data ini? [y/n]”. Lalu user input
pilihan, y (yes) atau n (no). Jika user input y, maka user diminta untuk
memilih atribut yang akan diupdate, dengan pilihan (a) nama, (b) alamat, (c)
telp, (d) email, (e) semua data. User input pilihan menu.
Jika user memilih (a), maka user diminta input nama
baru.
Jika user memilih (b), maka user diminta input alamat
baru.
Jika user memilih (c), maka user diminta input telp
baru.
Jika user memilih (d), maka user diminta input email
baru.
Jika user memilih (e), maka user diminta input nama,
alamat, telp, dan email baru.
Kemudian ditampilkan kembali daftar menu program pada
layar (kembali ke langkah 2).
Jika user memilih menu (4), maka user akan diminta
untuk input id data yang akan dihapus. Lalu layar akan menampilkan summary data
dengan id tersebut. Lalu user akan ditanya, “Apakah Anda yakin ingin
menghapus data ini? [y/n]”. Lalu user input pilihan, y (yes) atau n (no).
Jika user input y, maka data dengan id tersebut akan dihapus. Kemudian
ditampilkan kembali daftar menu program pada layar (kembali ke langkah 2).
Jika user memilih menu (5), maka user akan keluar dari
program.
Selesai.
Jumat, 04 November 2016
PENGETAHUAN TEKNOLOGI SISTEM CERDAS
Pengertian Sistem cerdas
Kecerdasan
buatan (Artificial Intelligent, AI) telah menjadi wacana umum yang sangat
penting dan banyak dijumpai. Kecerdasan Buatan atau Sistem cerdas atau
Intelegensi Buatan atau Artificial Inteligence merupakan cabang terpenting
dalam dunia komputer. Komputer tidah hanya alat untuk menghitung, tetapi
diharapkan dapat diberdayakan untuk mengerjakan segala sesuatu yang bias
dikerjakan oleh manusia. Manusia mempunyai pengetahuan, pengalaman dan
kemampuan penalaran dengan baik, agar komputer bisa bertindak seperti dan
sebaik manusia, maka komputer juga harus dibekali pengetahuan dan mempunyai
kemampuan untuk menalar.
Sejarah
kecerdasan buatan
Di
awal abad 20, seorang penemu Spanyol yang bernama Torres Y Quevedo, membuat
sebuah mesin yang dapat mengskakmat raja laannya dengan sebuah raja dan ratu.
Perkembangan
secara sistematis kemudian dimulai ditemukannya komputer digital.
*
Pada tahun 1950-an Alan Turing seorang matematikawan dari Inggris. Pertama kali
mengusulkan adanya tes untuk melihat bias tidaknya sebuah mesin dikatakan
cerdas (dikenal dengan Turing Test) seolah-olah mesin mampu merespon terhadap
serangkaian pertanyaan yang diajukan.
* Istilah kecerdasan buatan dimunculkan
pertama kali pada tahun 1956 ketika John Mc Cathy dari Massachusets Institute
of Technology (MIT) menciptakan bahasa pemrograman LISP
* Loghic Theorist (1956), diperkenalkan pada Dartmouth Conference, program ini dapat membuktikan teorema-teorema matematika.
* Loghic Theorist (1956), diperkenalkan pada Dartmouth Conference, program ini dapat membuktikan teorema-teorema matematika.
* Mesin Neural Network pertama oleh
Marvin Minsky (1958)
* Sad Sam, deprogram oleh Robert K.
Lindsay (1960), program ini dapat mengetahui kalimat-kalimat sederhana yang
ditulis dalam bahasa Inggris dan mampu memberikan jawaban dari fakta-fakta yang
didengar dalam sebuah percakapn.
* Muncul logika samar (1965) yang
merupakan pelaksanaan konsep samar di atas system komputer. Logika samar
mengukur ketidaktepatan dengan cara yang tepat, seperti yang diperlukan mesin.
* ELIZA (1967), diprogram oleh Joseph
Weizenbaum, yang mampu melakukan terapi terhadap pasien dengan memberikan
beberapa pertanyaan.
* Program Microworld dengan penciptaan
proyek SHRDLU (1968) merupakan Expert System yang pertama.
* Pada tahun 1972 bahasa Prolog
dimunculkan.
* John Holland (1975) mengatakan bahwa
setiap problem berbentuk adaptasi (alami maupun buatan) secara umum dapat
diformulasikan dalam terminologi genetika (Algoritma Genetika)
* Sistem catur AI mengalahkan manusia (Pecatur
master) pada tahun 1991.
* Robotik, peranti mekanika yang
diprogram untuk melakukan berbagai tugas.
Definisi Kecerdasan Buatan
Kecerdasan
Buatan adalah ilmu rekayasa yang membuat suatu mesin mempunyai intelegensi
tertentu khususnya program komputer yang “cerdas” (John Mc Cathy, 1956)
Kecerdasan
buatan merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan intruksi yang terkait dengan
pemrograman computer untuk melakukan sesuatu hal – yang dalam pandangan manusia
adalah – cerdas. (H.A Simon, 1987)
Kecerdasan
merupakan bagian kemampuan komputasi untuk mencapai tujuan dalam dunia. Ada
bermacam-macam jenis dan derajat kecerdasan untuk manusia, hewan dan mesin.
Kecerdasan
buatan merupakan sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan
hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia. ( Rich and
Knight, 1991)
Kecerdasan
buatan (AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang dalam mempresentasi
pengetahuan lebih banyak menggunakan bentuk symbol-simbol daripada bilangan,
dan memproses informasi berdasarkan metode heuristic (Metode Heuristik adalah
teknik yang dirancang untuk memecahkan masalah yang mengabaikan apakah solusi
dapat dibuktikan benar, tapi yang biasanya menghasilkan solusi yang baik atau
memecahkan masalah yang lebih sederhana yang mengandung atau memotong dengan
pemecahan masalah yang lebih kompleks.) atau dengan berdasarkan sejumlah
aturan.( Encyclopedia Britannica)
Kecerdasan
adalah kemampuan untuk belajar atau mengerti dari pengalaman. Memahami pesan
yang kontradiktif dan ambigu, menanggapi dengan cepat dan baik atas situasi
yang baru, menggunakan penalaran dalam memecahkan masalah dan menyelesaikannya
secara efektif (Winston dan Pendergast, 1994)
Al
dapat dipandang dalam berbagai perspektif.
Dari perspektif
kecerdasan
Ai
adalah bagaimana membuat mesin yang “cerdas” dan dapat melakukan hal-hal yang
sebelumnya dapat dilakukan oleh manusia.
Dari perspektif
penelitian
Suatu
studi bagaimana membuat agar komputer dapat melakukan sesuatu sebaik yang
dikerjakan manusia.
Domain yang
sering dibahas oleh peneliti meliputi:
a) Mundane task
· Persepsi
(Vision & Speech)
· Bahasa alami
(Understanding, Generation, Translation)
· Pemikiran yang
bersifat commonsense
· Robot control
b) Formal task
·
Permainan/games
· Matematika
(geometri, logika, kalkulus, integral, pembuktian)
c) Expert task
· Analisis
financial
· Analisis
medikal
· Analisis ilmu
pengetahuan
· Rekayasa
(desain, pencarian kegagalan,perencanaan manufaktur )
Konsep
kecerdasan buatan
TIRING TEST –
METODE PENGUJIAN KECERDASAN
* Turing Test –
Metode Pengujian Kecerdasan yang dibuat oleh Alan Turing.
* Proses uji ini melibatkan penanya (manusia) dan dua objek yang ditanyai. Yang satu adalah seorang manusia dan satunya adalah sebuah mesin yang akan diuji.
* Penanya tidak bisa melihat langsung kepada objek yang ditanya.
* Penanya diminta untuk membedakan mana jawaban computer dan mana jawaban manusia berdasarkan jawaban kedua objek tersebut.
* Jika penanya tidak dapat membedakan mana jawaban mesin dan mana jawaban manusia maka Turing berpendapat bahwa mesin yang diuji tersebut dapat diasumsikan “cerdas”.
* Proses uji ini melibatkan penanya (manusia) dan dua objek yang ditanyai. Yang satu adalah seorang manusia dan satunya adalah sebuah mesin yang akan diuji.
* Penanya tidak bisa melihat langsung kepada objek yang ditanya.
* Penanya diminta untuk membedakan mana jawaban computer dan mana jawaban manusia berdasarkan jawaban kedua objek tersebut.
* Jika penanya tidak dapat membedakan mana jawaban mesin dan mana jawaban manusia maka Turing berpendapat bahwa mesin yang diuji tersebut dapat diasumsikan “cerdas”.
PEMROSESAN
SIMBOLIK
*
komputer semula didesain untuk memproses bilangan/angka-angka.(pemrosesan
numerik)
* Sementara manusia dalam berpikir dan menyelesaikan masalah lebih bersifat simbolik, tidak didasarkan pada sejumlah rumus atau melakukan komputasi matematis.
* Sementara manusia dalam berpikir dan menyelesaikan masalah lebih bersifat simbolik, tidak didasarkan pada sejumlah rumus atau melakukan komputasi matematis.
* Sifat penting dai AI adalah bahwa AI
merupakan bagian dari ilmu komputer yang melakukan proses secara simbolik dan
non algoritmik dalam penyelesaian masalah.
HEURISTIK
*
Istilah Heuristic diambil dari bahasa yunani yang berarti menemukan.
* Heuristic merupakan suatu strategi
untuk melakukan suatu pencarian (search) ruang problema secara selektif, yang
memandu proses pencarian yang kita lakukan sepanjang jalur yang memiliki
kemungkinan sukses paling besar.
PENARIKAN
KESIMPULAN (INFERENCING)
*
AI mencoba membuat mesin memiliki kemampuan berpikir atau mempertimbangkan
(reasoning)
* Kemampuan berpikir (reasoning) termasuk didalamnya proses penarikan kesimpulan (inferencing) berdasarkan fakta-fakta dan aturan dengan menggunakan metode heuristic atau metode pencarian lainnya.
* Kemampuan berpikir (reasoning) termasuk didalamnya proses penarikan kesimpulan (inferencing) berdasarkan fakta-fakta dan aturan dengan menggunakan metode heuristic atau metode pencarian lainnya.
PENCOCOKAN POLA
(PATTERN MATCHING)
AI
bekerja dengan metode pencocokan pola (pattern matching) yang berusaha untuk
menjelaskan objek kejadian (events) atau proses dalam hubungan logik atau
komputasional.
Tujuan
Kecerdasan Buatan
* Membuat
computer lebih cerdas
* Mengerti
tentang kecerdasan
* Membuat mesn
lebih berguna
Keuntungan
kecerdasan buatan disbanding kecerdasan alami:
* Lebih bersifat
permanen
* Lebih mudah
dipublikasi atau disebarkan
* Lebih murah
dibandingkan kecerdasan alami
* Bersifat
konsisten
* Dapat
didokumentasikan
* Dapat
mengerjakan pekerjaan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan
alami.
Keuntungan
kecerdasan alami disbanding AI:
* Kreatif
* Dapat
melakukan proses pembelajaran secara langsung, sementara AI harus mendapatkan
masukan berupa symbol dan representasi-representasi.
* Pemikiran
manusia dapat digunakan secara luas sebagai referensi untuk pengambilan
keputusan. Sebaliknya, AI menggunakan focus yang sempit
SISTEM CERDAS YANG BANYAK DI
KEMBANGKAN
·Sistem
pakar ( Expert System)
yaitu
program konsultasi (advisory) yang mencoba menirukan proses penalaran seorang
pakar/ahli dalam memecahkan masalah yang rumit. sistem pakar merupakan aplikasi
AI yang paling banyak.
·
Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing)
Yang
member kemampuan pengguna komputer untuk berkomunikasi dengan komputer dalam
bahasa mereka sendiri (bahasa manusia). Komunikasi dapat dilakukan dengan
percakapan alih-alih menggunakan perintah yang biasa digunakan dalam bahasa
komputer biasa.
·
Bidang Pemrosesan Bahasa Alami di bagi lagi menjadi 2 bagian yaitu:
Pemahaman
bahasa alami, yang mempelajari metode yang memungkinkan komputer mengerti perintah
yang diberikan dalam bahasa manusia biasa. Dengan kata lain komputer dapat
memahami manusia.
Pembangkitan
bahasa alami, sering disebut juga sintesa suara. Yang membuat komputer dapat
membangkitkan bahasa manusia biasa sehingga manusia dapat memahami komputer
secara mudah.
·
Pemahaman Ucapan/Suara (Speech/Voice Understanding)
Adalah
teknik agar komputer dapat mengenali dan memahami bahasa ucapan.
Proses
ini mengijinkan seseorang berkomunikasi dengan komputer dengan cara berbicara
kepadanya.
Istilah
pengenalan suara, mengandung arti bahwa tujuan utamanya adalah mengenali kata
yang diucapkan tanpa harus tahu apa artinya, dimana bagian itu merupakan tugas
pemahaman suara.
Secara
umum prosesnya adalah usaha untuk menterjemahkan apa yang diucapkan oleh
seorang manusia menjadi kata-kata atau kalimat yang dimengerti oleh komputer.
· Sistem Sensor dan Robotika
Sistem
sensor seperti system visi dan pencitraan serta system pengolahan sinyal
merupakan bagian dari robotika.
Sebuah
robot yaitu, perangkat elektromagnetik yang diprogram untuk melakukan tugas
manual, tidak semuanya merupakan bagian AI.
Robot
hanya melakukan aksi yang telah diprogramkan dikatakan sebagai robot bodoh yang
tidak lebih pintar dari lift.
Robot
yang cerdas biasanya mempunyai perangkat sensor, seperti kamera, yang
mengumpulkan informasi mengenai operasi dan lingkungannya.
Kemudian
bagian AI robot tersebut menterjemahkan informasi tadi dan merespon serta
beradaptasi jika terjadi perubahan lingkungan.
Tujuan dan Isi
Intelligent Systems merupakan wilayah
dari bidang ilmu komputer dan rekayasa berurusan dengan cerdas adaptasi
perilaku, dan pembelajaran di mesin dan robot. sistem Intelligent prihatin
dengan desain sistem komputasi yang berfungsi dalam lingkungan yang berubah,
tak terduga dan biasanya tidak lengkap yang dikenal dengan menunjukkan
kemampuan tingkat tinggi. Tujuannya adalah untuk mengambil inspirasi dari alam,
kinerja manusia dan alat-alat pemecahan masalah matematis dalam rangka membangun
sistem yang kuat dapat mencapai tujuan yang kompleks dalam lingkungan yang
kompleks menggunakan sumber daya komputasi yang terbatas. sistem Intelligent
menggunakan konsep-konsep yang berasal dari ilmu saraf, sistem alam, biologi,
ilmu kognitif, teknik, sistem fisik dan dari kecerdasan buatan dan teknik
optimasi.
Mahasiswa
lulus dari program ini mengembangkan kemampuan untuk bekerja pada masalah yang
kompleks dan dalam karir masa depan mereka akan mampu menerapkan kompetensi
mereka di bidang interdisipliner dengan kemampuan analisis dan teknis
ditingkatkan. Contohnya termasuk perencanaan dan penjadwalan, kontrol,
robotika, prakiraan bisnis, mencari agen cerdas, video game, musik buatan,
menjawab otomatis dan diagnostik, dan tulisan tangan dan pengenalan suara.
Bahan
kursus, perangkat lunak alat dan robot mencerminkan keadaan terbaru dari seni
dan kesempatan lebih lanjut untuk keterlibatan akan timbul selama proses tesis
dengan mungkin kesempatan untuk belajar untuk PhD.
Program
ini membentang lebih dari dua tahun (120 kredit ECTS) dan terstruktur untuk
memungkinkan para siswa untuk personalisasi kurikulum studi mereka sesuai
dengan kepentingan masing-masing. Biasanya, pada semester pertama siswa
menghadiri kelas dalam rangka memperoleh pengetahuan dasar. Semester kedua dan
ketiga yang didedikasikan untuk mata kuliah inti dan pilihan. Siswa diminta
untuk mengambil mata kuliah inti yang menganggap topik tertentu cerdas sistem
dan metodologi. Siswa menyelesaikan kurikulum mereka dengan pilihan yang dapat
dipilih di antara program yang ditawarkan oleh ini dan lainnya USI
program-program terkait. Selama semester terakhir, siswa Guru menulis tesis
mereka.
Pengajaran
Mengajar di Fakultas Informatika menekankan hubungan dekat antara mahasiswa dan fakultas. Profesor yang mengejar penelitian tentang berbagai topik dan peserta aktif dalam proyek penelitian Swiss dan internasional dan jaringan. Mengunjungi profesor dari universitas terkenal melengkapi pengajaran berkualitas. Semua kursus diajarkan dalam bahasa Inggris.
Mengajar di Fakultas Informatika menekankan hubungan dekat antara mahasiswa dan fakultas. Profesor yang mengejar penelitian tentang berbagai topik dan peserta aktif dalam proyek penelitian Swiss dan internasional dan jaringan. Mengunjungi profesor dari universitas terkenal melengkapi pengajaran berkualitas. Semua kursus diajarkan dalam bahasa Inggris.
Sistem
cerdas dalam rekayasa Power
Intelligent
Systems merupakan wilayah dari bidang ilmu komputer dan rekayasa berurusan
dengan cerdas adaptasi perilaku, dan pembelajaran di mesin dan robot. sistem
Intelligent prihatin dengan desain sistem komputasi yang berfungsi dalam
lingkungan yang berubah, tak terduga dan biasanya tidak lengkap yang dikenal
dengan menunjukkan kemampuan tingkat tinggi. Tujuannya adalah untuk mengambil
inspirasi dari alam, kinerja manusia dan alat-alat pemecahan masalah matematis
dalam rangka membangun sistem yang kuat dapat mencapai tujuan yang kompleks
dalam lingkungan yang kompleks menggunakan sumber daya komputasi yang terbatas.
sistem Intelligent menggunakan konsep-konsep yang berasal dari ilmu saraf,
sistem alam, biologi, ilmu kognitif, teknik, sistem fisik dan dari kecerdasan
buatan dan teknik optimasi.
program
ini mengembangkan kemampuan untuk bekerja pada masalah yang kompleks dan dalam
karir masa depan mereka akan mampu menerapkan kompetensi mereka di bidang
interdisipliner dengan kemampuan analisis dan teknis ditingkatkan. Contohnya
termasuk perencanaan dan penjadwalan, kontrol, robotika, prakiraan bisnis,
mencari agen cerdas, video game, musik buatan, menjawab otomatis dan
diagnostik, dan tulisan tangan dan pengenalan suara.
Bahan kursus,
perangkat lunak alat dan robot mencerminkan keadaan terbaru dari seni dan
kesempatan lebih lanjut untuk keterlibatan akan timbul selama proses tesis
dengan mungkin kesempatan untuk belajar untuk PhD.
Aplikasi dari
Sistem Cerdas Membuat Robot Cerdas
Tahap-tahap
pembuatan robot
Secara garis
besar, tahapan pembuatan robot dapat dilihat pada gambar berikut:
Ada tiga tahapan
pembuatan robot, yaitu:
1. Perencanaan,
meliputi: pemilihan hardware dan design.
2. Pembuatan, meliputi pembuatan mekanik, elektonik, dan program.
3. Uji coba.
2. Pembuatan, meliputi pembuatan mekanik, elektonik, dan program.
3. Uji coba.
1. Tahap
perencanan
Dalam tahap ini,
kita merencanakan apa yang akan kita buat, sederhananya, kita mau membuat robot
yang seperti apa? berguna untuk apa? Hal yang perlu ditentukan dalam tahap ini:
* Dimensi, yaitu
panjang, lebar, tinggi, dan perkiraan berat dari robot.
* Struktur material, apakah dari alumunium, besi, kayu, plastik, dan sebagainya.
* Cara kerja robot, berisi bagian-bagian robot dan fungsi dari bagian-bagian itu. Misalnya lengan, konveyor, lift, power supply.
* Sensor-sensor apa yang akan dipakai robot.
* Mekanisme, bagaimana sistem mekanik agar robot dapat menyelesaikan tugas.
* Metode pengontrolan, yaitu bagaimana robot dapat dikontrol dan digerakkan, mikroprosesor yanga digunakan, dan blok diagram sistem.
* Strategi untuk memenangkan pertandingan, jika memang robot itu akan diikutkan lomba/kontes robot Indonesia/Internasional.
* Struktur material, apakah dari alumunium, besi, kayu, plastik, dan sebagainya.
* Cara kerja robot, berisi bagian-bagian robot dan fungsi dari bagian-bagian itu. Misalnya lengan, konveyor, lift, power supply.
* Sensor-sensor apa yang akan dipakai robot.
* Mekanisme, bagaimana sistem mekanik agar robot dapat menyelesaikan tugas.
* Metode pengontrolan, yaitu bagaimana robot dapat dikontrol dan digerakkan, mikroprosesor yanga digunakan, dan blok diagram sistem.
* Strategi untuk memenangkan pertandingan, jika memang robot itu akan diikutkan lomba/kontes robot Indonesia/Internasional.
2. Tahap
pembuatan
Ada tiga
perkerjaan yang harus dilakukan dalam tahap ini, yaitu pembuatan mekanik,
elektronik, dan programming. Masing-masing membutuhkan orang dengan
spesialisasi yang berbeda-beda, yaitu:
* Spesialis
Mekanik, bidang ilmu yang cocok adalah teknik mesin dan teknik industri.
* Spesialis Elektronika, bidang ilmu yang cocok adalah teknik elektro.
* Spesialis Programming, bidang ilmu yang cocok adalah teknik informatika.
* Spesialis Elektronika, bidang ilmu yang cocok adalah teknik elektro.
* Spesialis Programming, bidang ilmu yang cocok adalah teknik informatika.
Jadi dalam
sebuah tim robot, harus ada personil-personil yang memiliki kemampuan tertentu
yang saling mengisi.
Pembuatan
mekanik
Setelah
gambaran garis besar bentuk robot dirancang, maka rangka dapat mulai dibuat.
Umumnya rangka robot terbuat dari alumunium kotak atau alumunium siku. Satu
ruas rangka terhubung satu sama lain dengan keling alumunium. Keling adalah
semacam paku alumunium yang berguna untuk menempelkan lembaran logam dengan
erat.
Pembuatan sistem
elektronika
Bagian
sistem elektronika dirancang sesuai dengan fungsi yang diinginkan. Misalnya
untuk menggerakkan motor DC diperlukan h-brigde, sedangkan untuk menggerakkan
relay diperlukan saklar transistor. Sensor-sensor yang akan digunakan
dipelajari dan dipahami cara kerjanya, misalnya:
1. Sensor jarak,
bisa menggunakan SRF04, GP2D12, atau merakit sendiri modul sensor ultrasonik
atau inframerah.
2. Sensor arah, bisa menggunakan sensor kompas CMPS03 atau Dinsmore.
3. Sensor suhu, bisa menggunakan LM35 atau sensor yang lain.
4. Sensor nyala api/panas, bisa menggunakan UVTron atau Thermopile.
5. Sensor line follower / line detector, bisa menggunakan led & photo transistor.
2. Sensor arah, bisa menggunakan sensor kompas CMPS03 atau Dinsmore.
3. Sensor suhu, bisa menggunakan LM35 atau sensor yang lain.
4. Sensor nyala api/panas, bisa menggunakan UVTron atau Thermopile.
5. Sensor line follower / line detector, bisa menggunakan led & photo transistor.
Berikut ini
gambar sensor ultrasonik, inframerah, UVTron, dan kompas:
Pembuatan
sistem elektronika ini meliputi tiga tahap:
* Design PCB,
misalnya dengan program Altium DXP.
* Pencetakan PCB, bisa dengan Proboard.
* Perakitan dan pengujian rangkaian elektronika.
* Pencetakan PCB, bisa dengan Proboard.
* Perakitan dan pengujian rangkaian elektronika.
Pembuatan
Software/Program
Pembuatan
software dilakukan setelah alat siap untuk diuji. Software ini ditanamkan
(didownload) pada mikrokontroler sehingga robot dapat berfungsi sesuai dengan
yang diharapkan.
Tahap pembuatan
program ini meliputi:
1.
Perancangan Algoritma atau alur program Untuk fungsi yang sederhana, algoritma
dapat dibuat langsung pada saat menulis program. Untuk fungsi yang kompleks,
algoritma dibuat dengan menggunakan flow chart.
2. Penulisan Program Penulisan program
dalam Bahasa C, Assembly, Basic, atau Bahasa yang paling dikuasai.
3. Compile dan download, yaitu
mentransfer program yang kita tulis kepada robot.
Uji coba
Setelah
kita mendownload program ke mikrokontroler (otak robot) berarti kita siap
melakukan tahapan terakhir dalam membuat robot, yaitu uji coba. misalnya,
ujicoba dilakukan pada arena seluas sekitar 4×4 meter dan berbentuk seperti
puzzle. Dalam arena ini di diletakkan lilin-lilin yang harus dipadamkan oleh
robot cerdas pemadam api.
Langganan:
Postingan (Atom)





